Juni 9, 2026 | Lwntaa

5 Tren Makanan TikTok Paling Nyeleneh dan Berbahaya

5 Tren Makanan TikTok Paling Nyeleneh dan Berbahaya | Media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi dengan kuliner secara drastis. Jika dahulu ponsel digunakan untuk mencari resep masakan yang lezat atau melihat rekomendasi restoran estetis, kini situasinya sudah jauh bergeser. Jagat maya, khususnya platform video pendek TikTok, saat ini dipenuhi oleh berbagai eksperimen kuliner yang tidak hanya membuat dahi berkerut, tetapi juga bikin geleng-geleng kepala. Demi sebuah views, likes, dan status viral, batasan antara makanan aman dan benda berbahaya kini menjadi semakin kabur.

Fenomena ini melahirkan gelombang konten yang sering disebut sebagai rage baiting—sebuah trik sengaja untuk memancing emosi penonton. Para kreator konten berlomba-lomba menyajikan sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sayangnya, tidak semua inovasi ini berdampak baik. Sebagian besar dari tren yang melintasi fyp (for you page) justru memicu kekhawatiran besar di kalangan ahli medis dan nutrisi. Mari kita bedah lima tren makanan paling tidak masuk akal yang sempat mengguncang jagat TikTok dengan urutan yang akan membuat Anda tercengang.

1. Metode Diet Ekstrem Menggunakan ‘Kondom Mulut’

5-tren-makanan-tiktok-paling-nyeleneh-dan-berbahaya

Mari kita buka daftar ini dari daratan Asia, tepatnya di platform Douyin (TikTok versi China). Netizen sempat digemparkan oleh sebuah metode penurunan berat badan yang sangat ekstrem sekaligus tidak masuk akal. Tren ini dikenal luas oleh warganet dengan sebutan diet “kondom mulut”. Praktiknya dilakukan dengan cara membungkus seluruh area bibir dan mulut menggunakan plastik klip elastis (plastic wrap) sebelum menghadapi meja makan.

Para pelakunya kemudian membuat robekan atau celah super kecil tepat di tengah bibir agar makanan berukuran mini bisa masuk. Ide di balik kegilaan ini adalah agar mereka tetap bisa merasakan sensasi mengunyah makanan favorit tanpa perlu benar-benar menelan porsi yang besar. Karena ruang gerak mulut yang sangat terbatas, mereka percaya cara ini efektif untuk memangkas asupan kalori harian secara drastis tanpa kehilangan kenikmatan rasa di lidah.

Langkah instan ini langsung mendapat kecaman keras dari para psikolog dan ahli gizi. Metode ini dinilai sebagai bentuk nyata dari promosi gangguan makan (eating disorder) yang dikemas sebagai tips kecantikan. Membiarkan diri terbiasa mengunyah lalu membuang makanan kembali dapat memicu trauma psikologis jangka panjang seperti anoreksia nervosa dan bulimia. Efek buruk lainnya yang tidak disadari adalah risiko bahaya kesehatan dari material plastik itu sendiri. Gesekan konstan antara makanan panas, air liur, dan plastik pembungkus dapat melepaskan partikel mikroplastik berbahaya yang langsung masuk ke dalam sistem pencernaan.

2. Sensasi Mengunyah Pot Tanah Liat Berbumbu

5-tren-makanan-tiktok-paling-nyeleneh-dan-berbahaya

Dorongan untuk memakan sesuatu yang bukan makanan ternyata tidak hanya berhenti pada pembatasan fisik, tetapi juga menyasar pada benda-benda mati di sekitar kita. Di sudut lain platform digital ini, muncul sebuah fenomena di mana orang-orang dengan sengaja mengunyah pot bunga berukuran mini yang terbuat dari tanah liat. Tren ini awalnya bermula dari pengakuan seorang wanita yang tengah mengandung, di mana ia merasa memiliki keinginan aneh atau ngidam untuk merasakan tekstur tanah kering di lidahnya.

Untuk menyiasatinya agar terasa seperti camilan, ia menghancurkan pot tanah liat tersebut menjadi bongkahan kecil, mengucurinya dengan air perasan jeruk nipis, lalu menaburinya dengan bubuk cabai atau garam. Video menikmati “camilan bumi” ini langsung meledak di internet. Dampak instannya sungguh nyata; toko-toko online yang menjual pot tanah liat kerajinan tangan tiba-tiba kebanjiran pesanan dari pembeli yang diduga ingin ikut mencoba tren tersebut.

Secara psikologis dan medis, keinginan kuat untuk mengonsumsi benda-benda yang tidak memiliki nilai nutrisi dikenal dengan istilah gangguan pica. Memang ada beberapa tradisi kuno di belahan dunia tertentu yang mengonsumsi jenis tanah liat khusus untuk tujuan pengobatan tradisional. Namun, pot komersial yang dijual di pasar bebas sama sekali berbeda. Tanah liat untuk kerajinan tangan rawan terkontaminasi oleh logam berat berbahaya seperti timbal, telur parasit, serta bakteri tanah yang bisa memicu infeksi saluran pencernaan yang serius. Selain itu, teksturnya yang keras berisiko besar mematahkan gigi pengunyahnya.

3. Menjadikan Camilan Kuda Sebagai Kudapan Sore

5-tren-makanan-tiktok-paling-nyeleneh-dan-berbahaya

Kejadian unik berikutnya berawal dari ketidaksengajaan seorang kreator konten yang berniat membagikan momen bersama hewan peliharaannya. Melalui sebuah unggahan video, ia terlihat mencicipi sebuah produk biskuit komersial bermerek Likit yang sebenarnya diformulasikan khusus untuk hewan kuda. Alasan awalnya sederhana: ia hanya ingin memastikan rasa makanan tersebut sebelum diberikan kepada kudanya. Namun, algoritma internet bekerja dengan cara yang misterius; video tersebut ditonton oleh jutaan pasang mata dan seketika memicu gelombang peniru.

Pengguna internet lain yang penasaran mulai membeli produk serupa untuk membuktikan rasanya secara langsung. Beberapa orang mengklaim bahwa tekstur dan rasanya mirip dengan kue kering biasa, bahkan ada yang menyebutnya lumayan enak. Meski demikian, efek sampingnya langsung terasa bagi sebagian orang yang melaporkan rasa tidak nyaman, mual, dan begah pada perut mereka setelah menelannya.

Secara objektif, bahan dasar pembuatan biskuit hewan memang sering kali mirip dengan apa yang dimakan manusia, seperti gandum atau serat tumbuhan. Namun, industri pakan ternak memiliki standar pengolahan yang sangat berbeda dengan industri makanan manusia. Produsen biskuit tersebut bahkan sampai harus mengeluarkan pernyataan resmi untuk memperingatkan publik. Mereka menegaskan bahwa produk mereka memiliki kadar gula yang sangat pekat, jauh melampaui batas toleransi tubuh manusia sehat. Konsumsi secara berkala jelas akan merusak metabolisme tubuh dalam jangka panjang.

4. Estetika Visual Lewat Menu Acar Berkilau

5-tren-makanan-tiktok-paling-nyeleneh-dan-berbahaya

Bagi para pencinta makanan gurih, acar timun terfermentasi adalah pelengkap sempurna untuk menyeimbangkan rasa makanan yang berlemak. Namun, di tangan para kreator konten estetik, fungsi kuliner acar ini digeser menjadi sebuah objek seni visual yang berkilauan. Mereka menciptakan sebuah tren menu baru yang dinamai “Glickles”, sebuah singkatan dari glitter pickles.

Prosedur pembuatannya tergolong sangat sederhana. Mereka mengambil sebotol acar timun utuh, lalu menuangkan bubuk glitter berwarna-warni dalam jumlah banyak ke dalam air rendaman asam tersebut. Setelah dikocok hingga seluruh permukaan timun tertutup kerlap-kerlip warna perak, emas, atau merah muda, mereka akan memakannya di depan kamera dengan efek suara gigitan yang renyah (ASMR). Tampilan makanan yang berkilau di bawah sorotan lampu kamera memang terlihat sangat memanjakan mata dan menarik perhatian penonton usia muda.

Meskipun para pembuat konten mengklaim bahwa mereka menggunakan jenis glitter khusus makanan (edible glitter), tren ini tetap menyisakan ruang perdebatan yang besar. Masalah utamanya adalah edukasi publik. Banyak penonton usia anak-anak atau remaja yang mungkin tidak paham perbedaan antara dekorasi kue bersertifikasi aman dan produk glitter kerajinan tangan biasa yang terbuat dari plastik hancuran atau aluminium potong. Meniru tren ini dengan menggunakan bahan dekorasi yang salah dapat berakibat fatal bagi lambung, karena tubuh manusia tidak dirancang untuk mencerna partikel plastik kecil.

5. Eksperimen Fatal Memasak Ayam dengan Obat Flu

5-tren-makanan-tiktok-paling-nyeleneh-dan-berbahaya

Jika tren-tren sebelumnya dinilai sebagai tindakan yang konyol atau sekadar cari perhatian, maka tren yang terakhir ini sudah masuk dalam kategori sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Beberapa waktu lalu, linimasa media sosial dihebohkan dengan sebuah tantangan memasak yang dinamakan “NyQuil Chicken”. Dalam video-video yang beredar, para kreator terlihat menuangkan sebotol penuh sirup obat batuk dan flu berwarna biru atau hijau ke atas potongan daging ayam di dalam wajan. Obat medis tersebut digunakan layaknya bumbu marinasi atau kuah sup, lalu direbus hingga meresap ke dalam daging sebelum akhirnya disantap.

Aksi nekat ini langsung memicu alarm bahaya di tingkat otoritas kesehatan negara. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) bahkan sampai harus turun tangan dan merilis maklumat peringatan darurat secara global. Mengapa hal ini sangat fatal? Ketika sebuah obat sirup direbus di atas kompor, struktur kimia di dalamnya akan berubah total akibat paparan suhu panas yang tinggi.

Proses penguapan tersebut membuat kandungan aktif obat menjadi sangat terkonsentrasi. Bahayanya bahkan sudah mengintai sejak proses memasak berlangsung, di mana uap kimia yang terhirup secara tidak sengaja dapat merusak saluran pernapasan secara instan. Terlebih lagi saat daging ayam tersebut dimakan, dosis obat yang masuk ke tubuh menjadi tidak terukur. Hal ini dapat memicu overdosis parah, gagal napas akut, hingga kerusakan permanen pada organ hati manusia.

Menyikapi Gelombang Konten Kuliner Digital

Melihat kelima fenomena di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ruang digital terkadang menuntut harga yang sangat mahal untuk sebuah popularitas. Hiburan di media sosial memang menyenangkan untuk diikuti, namun akal sehat dan keselamatan diri harus tetap menjadi prioritas utama kita semua. Sebuah konten yang tampak menghibur di layar gawai belum tentu aman untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Sebagai konsumen informasi yang cerdas, kita dituntut untuk selalu menyaring setiap tren yang melintas di beranda kita. Menikmati kreativitas para kreator sah-sah saja dilakukan, asalkan tidak mengorbankan kesehatan tubuh kita yang berharga. Ketika sebuah makanan tidak lagi dinilai dari rasa dan kandungan gizinya, melainkan hanya dari seberapa aneh tampilannya saat direkam, di situlah kita harus mulai mengambil jarak dan bersikap kritis.

Share: Facebook Twitter Linkedin